Tag: China

Starbucks Lepas Kendali Operasi di China dalam Kesepakatan $4 Miliar dengan Boyu Capital

Starbucks Lepas Kendali Operasi di China dalam Kesepakatan $4 Miliar dengan Boyu Capital

Starbucks Jual Kendali Operasi China

Starbucks mengumumkan pada Senin bahwa perusahaan akan menjual kendali atas operasi di China kepada Boyu Capital dalam kesepakatan senilai $4 miliar. Langkah ini menjadi salah satu divestasi paling signifikan dari unit China oleh perusahaan global dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam kesepakatan tersebut, kedua perusahaan akan membentuk joint venture, di mana Boyu memegang saham hingga 60% pada operasi ritel Starbucks di China. Sementara itu, Starbucks akan mempertahankan 40% kepemilikan dan terus mengelola merek serta hak kekayaan intelektual yang dilisensikan ke entitas baru.

Menurut perkiraan Starbucks, total nilai bisnis ritel mereka di China akan melebihi $13 miliar, termasuk hasil dari penjualan kendali saham dan nilai kepemilikan yang dipertahankan.


Latar Belakang Divestasi Starbucks

Keputusan Starbucks menjual kendali bisnis di China muncul di tengah penurunan pangsa pasar akibat persaingan sengit dari rantai kopi lokal. Perusahaan lokal ini menawarkan produk dengan harga lebih murah, yang semakin diminati konsumen karena perlambatan ekonomi.

Data dari Euromonitor International menunjukkan pangsa pasar Starbucks di China turun drastis, dari 34% pada 2019 menjadi hanya 14% pada 2022. Penurunan ini cukup signifikan mengingat China menjadi rumah bagi lebih dari seperlima jumlah kafe Starbucks secara global.

Selain persaingan harga, perubahan gaya hidup konsumen dan tren minum kopi lokal juga ikut memengaruhi strategi Starbucks. Akibatnya, perusahaan memilih untuk fokus pada pertumbuhan berkelanjutan melalui kolaborasi dengan investor lokal.


Struktur Joint Venture Baru

Dalam struktur joint venture, Boyu Capital memiliki mayoritas saham, sedangkan Starbucks tetap menjaga kontrol intelektual. Model ini memberi fleksibilitas bagi kedua pihak dalam mengembangkan bisnis, sambil menjaga standar global Starbucks.

KomponenBoyu CapitalStarbucks
Kepemilikan60%40%
Kontrol merekLisensi dari StarbucksPemilik dan pengelola IP
Fokus operasionalEkspansi ritel lokalManajemen merek dan kualitas
Nilai kesepakatan$4 miliarRetain interest senilai bagian dari $13 miliar total bisnis

Tabel di atas menampilkan struktur kepemilikan serta tanggung jawab masing-masing pihak dalam joint venture.


Tantangan dan Peluang di Pasar China

Meskipun menghadapi penurunan pangsa pasar, Starbucks masih melihat potensi pertumbuhan di China. Kolaborasi dengan Boyu Capital memungkinkan perluasan jaringan ritel tanpa membebani modal perusahaan.

Namun, persaingan dari Luckin Coffee dan pemain lokal lain tetap menjadi tantangan utama. Mereka menawarkan kopi lebih murah, promosi agresif, dan inovasi digital yang menarik generasi muda.

Selain itu, tren konsumsi kopi premium juga meningkat, sehingga Starbucks dapat memanfaatkan peluang ini melalui produk spesial dan pengalaman pelanggan yang unik.


Strategi Global Starbucks

Divestasi ini menjadi bagian dari strategi global Starbucks untuk menyesuaikan operasi di pasar yang kompetitif. Dengan model joint venture, perusahaan tetap mempertahankan identitas merek, namun membagi risiko dengan investor lokal.

Langkah ini juga sejalan dengan tren global perusahaan yang menekankan kemitraan strategis dan efisiensi modal, sekaligus menjaga kualitas produk dan pengalaman pelanggan di setiap kafe.

Para analis melihat langkah ini sebagai strategi cerdas untuk mempertahankan relevansi Starbucks di pasar yang dinamis, sekaligus memaksimalkan nilai bisnis yang dimiliki di China.


Kesimpulan

Penjualan kendali bisnis Starbucks di China kepada Boyu Capital senilai $4 miliar menunjukkan perubahan strategi penting. Perusahaan mengakui tantangan kompetitif, namun tetap fokus pada pertumbuhan berkelanjutan melalui kemitraan lokal.

Dengan struktur joint venture, kedua pihak dapat memaksimalkan potensi pasar, mempertahankan kualitas merek, dan menyesuaikan diri dengan perubahan tren konsumsi di China.

Langkah ini menegaskan bahwa Starbucks tetap adaptif, fleksibel, dan siap menghadapi pasar global yang terus berubah.